“Virus Nulis Buku di Kalangan Mahasiswa”, itulah judul yang diangkat oleh Nurudin, M.Si (dosen Ilmu Komunikasi UMM) dalam tulisannya yang dimuat di Jawa Pos (24/1/ 2010) guna menanggapi budaya baru yakni menulis buku oleh para mahasiswa di perguruan tinggi. Seperti karya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) awal tahun 2009 yakni; 1. Internet Invation (Internet as Public Sphere), 2. Behind the Sex, 3. Hitam Putih Media, 4. Ketika Media Menguasai Kita, 5. Sampah Pariwara Indonesia, dan 6. Teroris Iklan. Kemudian dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yakni; 1. Jejak Pers: Tapak-Tapak Kaki Kuli Tinta Mencari Jati Diri, 2. Kuda Troya Media Massa, dan 3. Kutu-Kutu Media, Seksualitas dalam Globalisasi Media. Tak kalah pula buku karya mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) dengan judul Menelanjangi Film Indonesia. Sementara itu, di Universitas Islam Indonesia (UII) ada; 1. Ketika Perempuan Tidak Dimaknai secara Bijak, 2. Dari Lapangan Hijau sampai Senayan dan 3. Media dan Aktor Politik dalam Komunikasi Politik.
Awalnya kebiasaan menulis buku di kalangan mahasiswa ini digagas oleh Fajar Junaedi M.Si (dosen Ilmu Komunikasi UMY), yang mengaplikasikan teori dalam proses perkuliahan dan dibukukan dengan sajian analisis mahasiswa mengenai fenomena nyata dalam koridor program studi. Berangkat dari kebiasaan menulis dari dosen gondrong yang juga sebagai pengajar di beberapa perguruan tinggi swasta lain ini rajin menulis artikel ilmiah populer yang kerap muncul di beberapa media cetak lokal maupun nasional. Setidaknya dengan hal tersebut dapat memotivasi para akademisi untuk menyadari bahwa begitu bermanfaatnya kegiatan menulis dalam meningkatkan kualitas akademik.
Perlu kita tahu bahwa hampir seluruh mantan Presiden AS seperti Abraham Lincoln, JF Kennedy, John Q Adams selalu menulis otobiografinya sebagai bukti betapa pentingnya sebuah buku. Di Inggris-pun tak kalah dengan Winston Churchill dan India dengan Jawaharlal Nehru yang maniak menulis buku. Sejarah yang tercatat ini membawa kebiasaan menulis buku telah melahirkan pemimpin-pemimpin besar. Dan itulah yang diteladani para rakyatnya sehingga bangsa-bangsa tersebut menjadi produsen buku terbesar.
Kebiasaan menulis buku dikalangan mahasiswa inilah yang menjadi sebuah oase tatkala kekayaan literatur dijadikan sebuah sumber gizi pokok bagi pertumbuhan pendidikan dinegeri ini. Hal ini berbeda dengan tahun 1970an, dimana indonesia dikatakan dalam masa paceklik buku. Perkembangan yang menandai dimulainya kegiatan percetakan di tanah air terjadi ketika mesin cetak masuk ke Hindia Belanda abad ke-17 yang dibawa oleh VOC (Verenidge Oostindische Compagnie). Mereka mencetak banyak hal, mulai dari brosur, pamflet, hingga koran dan majalah (Kurniawan Junaedhi, 1995: Rahasia Dapur Majalah di Indonesia).
Pada tahun 1778, pernah berdiri sebuah perpustakaan Bataviaash Genootschaap vor Kunsten en Watenschappen, dengan koleksi naskah dan karya tulis bidang budaya dan ilmu pengetahuan di Indonesia. Namun pada saat itu, membaca adalah aktifitas yang tidak semua orang bisa melakukan. Karena hanya kaum pada golongan tertentu saja yang membudayakan bergelut dengan buku seperti kaum bangsawan, rohaniawan dan golongan pelajar.
Pasca reformasi adalah letupan kebangkitan dunia penulisan buku di indonesia yang telah seakan lepas dari pasungan. Bagaimana tidak, dahulu sensor ketat rejim Orde Baru yang sangat membatasi penulisan buku pengetahuan umum, dengan dalih “dianggap subversif” telah memberangus produktifitas para penulis buku. Tentunya pada momen “Hari Buku Nasional” ini diharapkan akan menumbuhkan semangat menulis buku. Cerita tentang Immanuel Kant mampu menjelajah serta menyelesaikan filsafat etika secara komprehensif setelah selama tiga bulan berada di kamar, bergelut, bergelayut, dan bersenggama dengan buku sampai lupa mandi. Bukan hanya menjadi sebuah agitasi positif bagi kalangan akademis semata. Akan tetapi sebagai penyulut semangat dan cinta terhadap buku. Mengingat karya-karya besar sejarah pembukuan dalam bentuk kitab seperti Nagara Kertagama karya Mpu Prapanca di abad 14, Sutasoma karya Mpu Tantular, dan lain-lain cukup dikenal publik sebagai peninggalan berharga dari sejarah Indonesia.
Kini kultur menulis buku dikalangan mahasiswa telah menjadi trend terbaru memunculkan gagasan-gagasan kreatifitas akademik. Tentunya tidak terlepas dari teori-teori yang telah dikaji dan digunakan untuk menganalisis fenomena nyata. Sehingga dalam studinya, mahasiswa mampu menginternalisasi lebih dalam tentang materi studi secara teoritis maupun praktis. Seperti yang disimpulkan seorang psikolog kognitif, James W. Pennebaker Phd dalam A new reason for keeping a diary menemukan bahwa orang-orang yang terlibat dalam menulis ekspresif memiliki kecenderungan berpikir analisis sebab-akibat dan lebih mengekspresikan perasaan-perasaan mereka dalam tulisan. Menggeliatnya kultur menulis buku dikalangan mahasiswa tidak terlepas dari motivasi dan peran aktif para pengajar yang berhasil memformulasikan kurikulum matakuliah formal maupun informal. Seperti contoh yang dilakukan sebuah pesantren di Yogyakarta asuhan Gus Zainal A. Thoha. Pesantren tersebut menyusun kurikulum untuk mencetak penulis-penulis hebat. Maka, setiap saat, santri selalu dilatih menulis, menulis, dan menulis. Alhasil, kini tulisan-tulisan para santri tersebut telah menghiasi berbagai media lokal dan nasional (Muhammad AS dalam Andai Buku Sepotong Pizza; 2009).
Semakin banyak tulisan dalam bentuk buku, maka semakin kaya perbendaharaan literasi yang telah dikaji. Tentunya semangat ini harus selalu disulut, agar bibit-bibit sebagai seorang penulis yang telah tersemai ini dapat tumbuh berkembang. Maka tak ayal jika sebertar lagi akan terbit buku-buku karya mahasiswa berikutnya dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yakni; Gado-gado Pelanggaran Iklan dan Oh My GOT: Potret Buram Periklanan Indonnesia. Kemudian dari Universitas Muhammadiyah Surakarta yakni; Membedah Tubuh Komunikasi Kontemporer dan Quo Vadis Komunikasi Kontemporer. Dan juga Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dengan Miss V dan Tuan Media: Merecoki Feminisme. Dan semoga disusul oleh berbagai perguruan tinggi lainnya. Dengan semakin menggeliatnya kreatifitas penulisan buku olah mahasiswa tersebut, akan pula memperkaya khasanah intelektualitas yang telah tergores melalui pena karya. Seperti pendapat Pramoedya Ananta Toer, ”Menulislah. Selama engkau tidak menulis, engkau akan hilang dari masyarakat dan pusaran sejarah.”.
